Kapolres Parepare Hadiri Kuliah Umum BPC HIPMI, Mahasiswa Diajak Jadi Benteng Bangsa

oleh -14 views

Parepare — Ancaman narkoba dan judi online tidak cukup dihadapi melalui penindakan hukum. Keterlibatan mahasiswa, keluarga, dan lingkungan kampus juga dibutuhkan untuk mencegah dua persoalan tersebut merusak masa depan generasi muda.

Pesan itu mengemuka dalam kuliah umum bertema “Mahasiswa sebagai Benteng Bangsa: Peran Generasi Muda dalam Pencegahan Narkoba dan Judi Online” yang digelar BPC HIPMI Kota Parepare bersama IAIN Parepare, Kamis (15/10/2026).

Kapolres Parepare AKBP Phunky Mahendra Borniawan turut hadir dalam kegiatan yang diikuti sekitar 300 mahasiswa tersebut. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bersama bahwa pencegahan narkoba dan judi online membutuhkan kerja lintas sektor, bukan hanya mengandalkan kepolisian.

Peredaran narkoba dan maraknya judi online menjadi tantangan serius karena keduanya dapat menjangkau masyarakat melalui berbagai jalur. Mahasiswa pun perlu memiliki kemampuan mengenali risiko, menjaga lingkungan pergaulan, serta tidak mudah terjerumus dalam aktivitas yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Dalam forum tersebut, Anggota Komisi III DPR RI Andi Amar Ma’ruf Sulaiman menyoroti masifnya penyebaran narkoba dan kerentanan masyarakat terhadap paparan barang terlarang itu.

Persoalan serupa juga terlihat dalam pemberantasan judi online. Pemblokiran situs belum sepenuhnya menyelesaikan masalah karena tautan baru dapat terus bermunculan. Kondisi ini menunjukkan bahwa penindakan perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan pencegahan.

Selain penegakan hukum, pendekatan pemulihan bagi orang yang mengalami ketergantungan juga menjadi perhatian dalam diskusi tersebut.

Andi Amar menilai pengguna narkoba dan orang yang terjerat kecanduan judi online membutuhkan pendampingan agar dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.

“Jangan langsung memenjarakan. Pelaku narkoba dan pecandu judi online itu korban yang butuh didampingi. Mereka masih mau hidup normal kembali,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menegaskan pentingnya membedakan penanganan terhadap korban penyalahgunaan atau ketergantungan dengan upaya menindak pihak yang memproduksi, mengedarkan, atau mengambil keuntungan dari kejahatan tersebut. Penanganan tetap harus mengikuti ketentuan hukum dan mempertimbangkan kondisi masing-masing kasus.

Rektor IAIN Parepare, Prof. Dr. Hj. Darmawati, mengakui bahwa pengawasan terhadap mahasiswa tidak dapat dilakukan kampus setiap saat. Karena itu, dukungan berbagai pihak dibutuhkan untuk memperkuat perlindungan terhadap mahasiswa.

“Kami tidak bisa mengawasi anak-anak kami secara langsung setiap saat. Kami butuh bantuan semua pihak,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kampus membutuhkan dukungan dari keluarga, masyarakat, dan aparat penegak hukum untuk membangun lingkungan pendidikan yang aman.

Bagi kepolisian, upaya pencegahan juga perlu diterjemahkan ke dalam langkah yang berkelanjutan, mulai dari edukasi, komunikasi dengan mahasiswa, hingga penanganan laporan secara profesional. Sementara itu, mahasiswa dapat berperan dengan menolak narkoba dan judi online, mengingatkan teman sebaya, serta melaporkan dugaan tindak pidana melalui saluran resmi.

Kuliah umum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kampus, kepolisian, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membahas ancaman yang dihadapi generasi muda. Namun, dampaknya akan sangat ditentukan oleh tindak lanjut setelah kegiatan berakhir.

Pencegahan narkoba dan judi online tidak cukup berhenti pada seminar atau imbauan. Konsistensi edukasi, dukungan bagi korban, serta penegakan hukum yang tepat menjadi kunci untuk melindungi mahasiswa dan masa depan generasi muda di Parepare. (*)